Senin, 25 Februari 2013

Tabi’in: Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq


Sudah sampaikah berita kepada Anda tentang tabi’in yang agung ini? Seorang pemuda yang terkumpul pada dirinya pujian dari segala sisi, tak satupun pujian luput darinya.

Ayahandanya beliau adalah Muhammad bin Abu Bakar ash-Shidiq, Ibnunya adalah putri Yazdajir, raja Persia yang terakhir. Sedangkan bibinya dari pihak ayah adalah Aisyah, Ummul Mukminin. Di samping itu, di atas kepalanya telah bertengger mahkota takwa dan ilmu. Adakah Anda masih mengira ada kemenangan yang lebih tinggi dari kemenangan yang semua orang bersaing dan berlomba mendapatkannya ini?
Dialah al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq, satu dari tujuh fuqaha Madinah, yang paling utama ilmunya pada zamannya, paling tajam kecerdasan otaknya, dan paling bagus sifat wara’nya. Marilah kita buka lembaran hidupnya dari awal.
Al-Qasim bin Muhammad lahir pada akhir masa khilafah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya anak ini, badai fitnah semakin dahsyat menerpa kaum muslimin. Hingga mengakibatkan terbunuhnya khalifah yang zuhud, ahli ibadah, Dzun Nurain Utsman bin Affan sebagai syuhada, sedangkan Alquran berada dalam dekapannya.
Tak lama setelah itu muncul sengketa besar antara Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb, gubernur untuk wilayah Syam. Dalam rangkaian keadaan genting dan peristiwa-peristiwa yang mencekam itu, anak tersebut mendapati dirinya bersama adik perempuannya dibawa dari Madinah ke Mesir, menyusul kedua orang tuanya. Ayahnya diangkat menjadi gubernur Mesir oleh khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Di kota ini dia harus menyaksikan cakar-cakar fitnah mencengkeram makin jauh sampai akhirnya ayah beliau tewas dengan cara yang keji. Selanjutnya beliau pindah lagi dari Mesir kembali ke Madinah setelah kekuasaan dipegang oleh Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu. Kini dia yatim piatu. Al-Qasim bercerita tentang perjalanan hidupnya yang sarat dengan penderitaan itu:
“Setelah terbunuhnya ayah di Mesir, pamanku Abdurrahman datang untuk membawaku dan adik perempuanku ke Madinah. Setibanya di kota ini, bibiku, Ummul Mukminin, mengutus seseorang mengambil kai berdua untuk dibawa ke rumahnya dan dipelihara di bawah pengawasannya.
Ternyata belum pernah aku menjumpai seorang ibu dan ayah yang lebih baik dan lebih besar kasih sayangnya daripada beliau. Beliau menyuapi kami dengan tangannya, sedang beliau tidak makan bersama kami. Bila tersisa makanan kami barulah beliau memakannya. Beliau mengasihi kami seperti seorang ibu yang masih menyusui bayinya. Beliau memandikan kami, menyisir rambut kami, memberi pakaian-pakaian yang putih bersih. Beliau senantiasa mendorong kami, untuk berbuat baik dan melatih kami untuk itu dengan teladannya. Beliau melarang kami melakukan perbuatan jahat dan menyuruh kami meninggalkannya jauh-jauh. Beliau pula yang mengajar kami membaca Kitabullah dan meriwayatkan hadis-hadis yang bisa kami pahami. Di hari raya, bertambahlah kasih sayang dan hadiah-hadiahnya untuk kami. Di setiap senja di hari Arafah, beliau memotong rambutku, memandikan aku dan adik perempuanku. Pagi harinya kami diberi baju baru kemudian aku disuruh ke masjid untuk shalat Id. Setelah selesai, aku dikumpulkan bersama adikku kemudian kami makan daging udhhiyah.
Suatu hari beliau memakaikan baju berwarna putih untuk kami. Kemudian aku didudukkan di pangkuannya yang satu sedang adikku di pangkuan yang lain. Paman Abdurrahman datang atas undangannya. Lalu bibi Aisyiah mulai berbicara, beliau mulai dengan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sungguh aku belum pernah mendengar sebelum dan sesudahnya seorang pun baik laki-laki ataupun perempuan yang lebih fasih lisannya dan lebih bagus tutur katanya dari beliau. Beliau berkata kepada paman. “Wahai saudaraku, aku melihat sepertinya Anda menjauh dari saya sejak saya mengambil dan merawat kedua anak ini. Demi Allah saya melakukannya bukan karena lancang kepada Anda, bukan karena saya menaruh buruk sangka kepada Anda, dan bukan pula lantaran saya tidak percaya bahwa Anda dapat memenuhi hak keduanya. Hanya saja Anda memiliki istri lebih dari satu, sedangkan ketika itu kedua anak kecil ini belum bisa mengurus dirinya sendiri. Maka saya khawatir jika keduanya dalam keadaan yang tidak disukai dan tidak sedap dalam pandangan istri-istrimu. Sehingga saya merasa lebih berhak untuk memenuhi hak keduanya ketika itu. Namun sekarang keduanya sudah beranjak remaja dan telah mampu mengurus dirinya sendiri, maka bawalah mereka dan aku serahkan tanggung jawabnya kepada Anda.” Begitulah, akhirnya pamanku Abdurrahman memboyon kami ke rumahnya.
Hanya saja, hati anak keturunan Abu Bakar ini masih terpaut dengan rumah bibinya, Aisyah. Rindu terhadap lantai rumah yang bercampur dengan kesejukan nubuwat. Dia berkembang dan terpelihara oleh perawatan pemilik rumah itu, dia kenyang dalam kasih sayangnya. Oleh sebab itu, dia membagi waktunya antara rumah bibi dan rumah pamannya.
Rumah bibinya betul-betul berkesan di hatinya. Lingkungan yang sejuk itu menghidupkan sanubari selama hayatnya. Simaklah kesan-kesan yang melekat di hatinya:
“Suatu hari, aku berkata kepadaku bibiku Aisyah: “Wahai ibu, tunjukkan kepadaku kubur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua sahabatnya, aku ingin sekali melihatnya.”
Tiga kubur itu berada di dalamnya rumahnya, ditutup dengan sesuatu untuk menghalangi pandangan. Beliau memperlihatkan untuk kami tiga buah makam yang tidak diunggukkan dan tidak pula dicekungkan. Ketiganya ditaburi kerikil merah seperti yang ditaburkan di halaman masjid. Saya bertanya, “Yang mana makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menunjuk salah satu darinya: “Ini.” Bersamaan dengan itu, dua butir air mata bergulir di pipinya, tetapi segera di sekanya agar aku tak melihatnya. Makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu agak lebih maju dari makam kedua sahabatnya.
Saya bertanya lagi, “Lalu yang mana makam kakekku, Abu Bakar?” Sambil menunjuk satu kubur beliau berkata, “Yang ini.” Kulihat makam kakekku sejajar dengan letak bahu Rasulullah. Aku berkata, “Yang ini makam Umar?” Beliau menjawab, “Benar.”
Menginjak remaja, cucu Abu Bakar ini telah hafal Kitabullah dan menimba hadis-hadis dari bibinya, Aisyah sebanyak yang dikehendaki Allah. Dia tekun mendatangi al-Haram an-Nabawi dan dududk dalam halaqah-halaqah ilmu yang terhampar di setiap sudut-sudut masjid laksana bintang-bintang gemerlap yang bertaburan di langit yang terang.
Beliau menghadiri majlisnya Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Khabbab, Rafi’ bin Khudaij, Aslam pembantu Umar bin Khathab dan sebagainya. Hingga pada gilirannya beliau menajdi imam mujtahid dan menjelma menjadi manusia yang paling pandai dalam hal sunah pada zamannya.
Setelah sempurna perlengkapan ilmu pemuda yang merupakan cucu Abu Bakar ini, orang-orang banyak belajar kepadanya dengan penuh perhatian. Sementara beliau memberkan ilmunya tanpa pamrih atau jual mahal. Beliau tak pernah absen untuk pergi ke Masjid Nabawi setiap hari, lalu shalat dua rakaat tahiyatul masjid kemudian duduk di bekas tempat Umar radhiyallahu ‘anhu di Raudhah, yakni tempat antara kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mimbarnya. Selanjutnya berkumpullah murid-muridnya dari segala penjuru untuk menimba ilmu dari sumber yang segar dan bersih, melegakan jiwa-jiwa yang haus akan ilmu.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhrinya al-Qasim bin Muhammad dan putra bibinya, Salim bin Abdullah bin Umar, menjadi dua imam Madinah yang terpercaya. Keduanya menjadi tokoh yang ditaati dan didengar tutur katanya kendati keduanya tidak memiliki wilayah jabatan ataupun kekuasaan. Masyarakat mengangkat keduanya karena sifat takwa dan wara’nya. Juga karena pusaka yang berada di dalam dadanya berupa ilmu dan pemahamannya, ditambah lagi karena sifat zuhudnya terhadap apa yang dimiliki oleh manusia serta berharap banyak terhadap apa-apa yang berada di sisi AllahSubhanahu wa Ta’ala.
Martabat keduanya mencapai puncaknya hingga khalifah-khalifah Bani Umayah dan para bawahannya hormat kepadanya. Penguasa-penguasa tersebut tidak pernah memutuskan suatu masalah yang pelik kecuali setelah mendengarkan pendapat kedua ulama tersebut.
Sebagai contoh, ketika al-Walid bin Abdul Malik berkeinginan untuk memperluas al-Haram an-Nabawi yang mulia. Rencana ini tidak bisa dilaksanakan tanpa membongkar masjid yang lama pada keempat arahnya dan menggusur rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk perluasan.
Persoalan ini rentan dengan perpecahan antara kaum muslimin dan menyakiti perasaan mereka. Mengingat hal ini, maka khalifah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, wali Madinah, yang isinya sebagai berikut:
“Saya memandang perlunya memperluas Masjid Nabawi asy-Syarif sampai 200 hasta persegi. Untuk kebutuhan ini, keempat dindingnya perlu dirobohkan dan rumah istri-istri Nabi terpaksa kena perluasan. Selain itu rumah-rumah yang ada di sekitarnya perlu dibeli dan kiblatnya dimajukan kalau bisa. Anda mampu mewujudkan hal itu, mengingat kedudukan Anda di antara paman-paman Anda adalah keturunan Ibnul Khathab dan besarnya pengaruh mereka di masyarakat.
Jika penduduk Madinah menolaknya, Anda bisa minta bantuan pada al-Qasim dan Salim bin Abdullah. Sertakan keduanya dalam rencana pemugaran dan perluasan ini. Jangan lupa bayarlah ganti rugi rumah-rumah rakyat dengan harga setinggi mungkin. Bagi Anda pahala yang baik seperti yang dilakukan Umar bin Khathab dan Utsman bin Affan.”
Dengan segera, gubernur Madinah Umar bin Abdul Aziz mengundang al-Qasim bin Muhammad dan Salim bin Abdullah bin Umar dan para pemuka kaum muslimin Madinah. Kedpada mereka dibacakan surat perintah khalifah yang baru saja diterima. Ternyata mereka gembira dengan apa yang direncanakan oleh Amirul Mukminin dan siap sedia untuk mendukung rencana tersebut.
Di tempat lain, pasukan muslimin terus mendapatkan kemenangan gemilang. Mereka berhasil menjatuhkan benteng-benteng musuh di Konstantinopel dan merebut kota demi kota di bawah pimpinan komandan yang tangkas dan pemberani, Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan. Ini adalah awal terbukanya Konstantinopel.
Kaisar Romawi mendengar rencana pemugaran dan perluasan Masjid Nabawi, maka dia ingin menyenangkan dan mengambil hati Amirul Mukminin. Dikirimnya 100 kilogram emas murni disertai 100 arsitek dari Romawi dan membawa ubin-ubin marmer yang indah. Bantuan tersebut dikirimkan oleh al-Walid kepada Umar bin Abdul Aziz. Wali Madinah ini baru mau memanfaatkannya setelah terlebih dahulu bermusyawarah dengan al-Qasim bin Muhammad.
Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009

Tabi’in: Zainul Abidin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib


Tahun itu, tamatlah riwayat kekaisaran Persia. Yazdajird, kaisar terakhir Persi wafat di pengasingan, sementara seluruh harta, prajurit dan kerabat istana menjadi tawanan kaum muslimin. Semuanya diangkut ke Madinah al-Munawarah.

Kemenangan kaum muslimin itu menghasilkan tawanan yang berjumlah banyak, dari kalangan terhormat dan belum pernah penduduk Madinah melihat hasil ghanimah sebanyak dan begitu berharga seperti itu. Di antara para tawanan tersebut terdapat pula tiga orang putri kaisar Yazdajird.
Orang-orang memperhatikan para tawanan tersebut dan beberapa saat kemudian sebagian mereka ikut membelinya, sedangkan bayarannya dimasukkan ke baitul maal kaum muslimin. Tidak ada lagi yang tertinggal selain para putri kaisar yang sangat jelita lagi masih belia.
Ketika ditawarkan untuk dijual, mereka semua tertunduk ke bumi merasa hina dan rendah. Air mata meleleh dari kedua pipi mereka.
Ali bin Abi Thalib merasa iba melihatnya dan berharap semoga orang yang akan membeli para putri itu adalah orang yang bisa menghargai martabat mereka dan sanggup memelihara mereka dengan baik, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kasihanilah para bangsawan yang terhina.
Dengan segera beliau mendekati Amirul Mukminin Umar bin Khathab dan mengusulkan: “Para putri kaisar itu sebaiknya tidak diperlakukan seperti tawanan lainnya.” Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Engkau benar, tapi bagaimana caranya?” Ali berkata, “Umumkan harga mereka setinggi mungkin, lalu beri mereka kebebasan untuk memilih orang yang bersedia membayarnya.”
Saran Ali disetujui dan segera dilaksanakan oleh Umar. Putri yang pertama memilih Abdullah bin Umar, putri kedua memilih Muhammad bin Abu Bakar, sedangkan ketiga yang dipanggil dengan Syah Zinaan memilih Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tak lama setelah itu, putri yang ketiga langsung memeluk Islam dan bagus keislamannya. Sehingga dia beruntung dengan agama yang lurus, juga dimerdekakan dan dijadikan istri oleh Husein setelah tadinya berstatus budak. Setelah itu dia tanggalkan segala hal yang berkaitan dengan paganisme (penyembahan berhala) dan mengganti nama “Syah Zinan” yang berarti ratunya para wanita menjadi “Ghazalah.”
Ghazalah amat bahagia menjadi istri dari suami yang paling baik dan paling layak untuk mendapatkan putri raja. Sehingga tiada lagi yang dia cita-citakan selain mendapatkan karunia anak.
Beberapa waktu kemudian, Allah pun memuliakan beliau, tidak lama kemudian beliau dikaruniai seorang anak yang tampan. Beliau memberinya nama Ali, sama dengan nama kakeknya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Hanya saja, kebahagiaan itu tak lama dirasakan Ghazalah. Ia segera memenuhi panggilan Rabb-nya akibat pendarahan terus-menerus sesudah melahirkan. Sehingga tidak ada kesempata bagi beliau untuk bersenang-senang dengan anaknya.
Kini, anak tersebut dirawat oleh seorang budak wanita. Dia dicintai seperti darah dagingnya sendiri, dipelihara lebih baik daripada anaknya sendiri. Maka si kecil itu tumbuh tanpa mengenal ibu lain selain budak wanita itu.
Menginjak usia remaja, Ali bin Husein sangat tekun dan antusias menuntut ilmu. Madrasah pertama beliau adalah rumahnya sendiri, rumah yang paling mulia dan gurunya pun ayahandanya sendiri. Madrasah yang kedua adalah Masjid Nabawi asy-Syarif yang ramai dikunjungi sisa-sisa shahabat Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi pertama tabi’in.
Mereka begitu bersemangat mendidik para putra shahabat utama. Mengajari Kitabullah, fiqih, serta riwayat hadis-hadis nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan target dan obyek yang ditujunya. Juga menceritakan tentang perjalanan dan perjuangan Rasulullah, tentang syair-syair Arab dan keindahannya. Mengisi hati mereka dengan kecintaan, takut, dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan akhirnya mereka berhasil menjadi ulama yang mau beramal dan menjadi pembimbing bagi orang-orang yang mendapat petunjuk.
Hanya saja hati Ali bin Husein tidaklah terkait kepada sesuatu melebihi keterpautan hatinya terhadap Kitabullah. Tak ada hal lain yang lebih dikagumi sekaligus ditakuti daripada kalimat-kalimat, janji dan ancaman yang ada di dalamnya.
Jika ayat yang beliau baca menyebut-nyebut tentang surga, serasa terbang kerinduan beliau terhadapnya. Bila membaca ayat-ayat tentang neraka, gentar gemetar seakan melihat dan merasakan panas api di tubuhnya.
Memasuki usia dewasa, dia tumbuh menjadi seorang pemuda yang kaya ilmu dan ketaqwaan. Penduduk Madinah mendapatinya sebagai pemuda Bani Hasyim yang patut diteladani ibadah dan ketaqwaannya, terhormat, luas pengetahuan, dan ilmunya, mencapai puncak ibadah dan takwanya. Sampai-sampai setiap kali selesai wudhu terlihat wajahnya pucat pasi seperti orang ketakutan. Bila ditanya tentang hal itu beliau menjawab, “Duhai celaka, tidakkah kalian tahu, kepada siapa aku akan menghadap dan siapa yang akan aku ajak berbicara?”
Melihat kepribadian beliau tersebut, kaumnya memberikan julukan “Zainul Abidin” (Hiasan para ahli ibadah) dan julukan ini justru lebih dikenal daripada nama aslinya. Selain itu, karena sujud yang sangat lama, penduduk Madinah juga menyebutnya sebagai “as-Sajjad.” Dan karena jiwanya yang bersih, dijuluki pula dengan “Az-Zakiy.”
Zainul Abidin yakin bahwa sumsum ibadah adalah doa. Beliau sendiri paling gemar berdoa di tirai Ka’bah dengan doanya, “Wahai Rabb-ku, Engkau menjadikan aku merasakan rahmat-Mu kepadaku seperti yang kurasakan dan Engkau berikan nikmat kepadaku sebagaimana yang Engkau anugerahkan, sehingga aku berdoa dalam ketenangan tanpa rasa takut dan meminta sesuka hatiku tanpa malu dan ragu. Wahai Rabb-ku, aku berwasilah kepada-Mu dengan wasilah seorang hamba lemah yang sangat membutuhkan rahmat dan kekuatan-Mu demi melaksanakan kewajiban dan menunaikan hak-Mu. Maka terimalah doaku, doa orang yang lemah, asing dan tak ada yang mampu menolong kecuali Engkau semata, wahai Akramal Akramin…”
Thawus bin Kaisan pernah melihat Zainul Abidin berdiri di bawah bayang-bayang Baitul Atiq (ka’bah), gelagapan seperti orang tenggelam, menangis seperti ratapan seorang penderita sakit dan berdoa terus-menerus seperti orang yang sedang terdesak kebutuhan yang sangat. Setelah Zainul Abidin selesai berdoa, Thawus bin Kaisan mendekat dan berkata,
Thawus: “Wahai cicit Rasulullah, kulihat Anda dalam keadaan demikian padahal Anda memiliki tiga keutamaan yang saya mengira bisa mengamankan Anda dari rasa takut.”
Zainul Abidin: “Apakah itu wahai Thawus?”
Thawus: “Pertama, Anda adalah keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, Anda akan mendapatkan syafaat dari kakek Anda dan ketiga, rahmat Allah bagi Anda.”
Zainul Abidin: “Wahai Thawus, garis keturunanku dari Rasulullah tidak menjamin keamananku setelah kudengar firman Allah:
...kemudian ditiup lagi sangkakala, maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka hari itu…” (QS. Al-Kahfi: 99)
Adapun tentang syafaat kakekku, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan firman-Nya:
Mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah.” (QS. Al-Anbiya: 28)
Sedangkan mengenai rahmat Allah, lihatlah firman-Nya:
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
Takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki, ketakwaan Zainul Abidin benar-benar tak terlampaui orang lain. Kebijakannya, kedermawanannya dan sifat sebenarnya. Tak heran bila kisah hidupnya senantiasa menyemarakkan buku-buku sejarah dan mengharumkan lembar-lembarnya dengan keluhuran budinya. Di antaranya adalah riwayat dari Hasan bin Hasan:
Pernah terjadi perselisihan antara aku dengan putra pamanku, Zainul Abidin. Kudatangi dia tatkala berada di masjid bersama shahabat-shahabatnya. Aku memakinya habis-habisan, tapi dia hanya diam membisu sampai aku pulang. Malam harinya ada orang mengetuk pintu rumahku. Aku membukanya untuk melihat siapa gerangan yang datang. Ternyata Zainul Abidin. Tak aku sangsikan lagi, dia pasti akan membalas perlakuanku tadi siang. Namun ternyata dia hanya bicara, “Wahai saudaraku, bila apa yang Anda katakan tadi benar, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku. Dan jika yang Anda katakan tidak benar, semoga Dia mengampunimu…” Kemudian beliau berlalu setelah mengucapkan salam.
Merasa bersalah, aku mengejarnya dan berkata, “Sungguh, aku tak akan mengulangi kata-kata yang tidak  Anda sukai.” Beliau berkata, “Saya telah memaafkan Anda.”
Kisah lain diceritakan oleh seorang pemuda Madinah meriwayatkan, “Ketika melihat Zainul Abidin keluar dari masjid, aku mengikutinya dan langsung memakinya. Ternyata hal itu membuat orang-orang marah. Mereka berkerumun hendak mengeroyok aku. Seandainya mereka benar-benar melakukannya, pastilah aku babak belur. Untunglah ketika itu Zainul Abidin berkata, “Biarkanlah orang ini.” Maka merekapun membiarkan diriku.
Melihat aku gemetar ketakutan, dia menatap dengan wajah bershahabat dan menenteramkan hati, lalu berkata, “Engkau telah mencelaku sejauh yang kamu ketahui, padahal apa yang tidak Anda ketahui lebih besar lagi. Adakah Anda memiliki keperluan sehingga saya bisa membantu Anda?”
Aku menjadi malu sekali dan tak bisa berkata apa-apa. Begitu melihat gelagatku, beliau memberikan baju dan uang seribu dirham. Sejak itu setiap kali melihatnya aku berkata, “Saya bersaksi bahwa Anda memang benar-benar keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Kisah berikutnya dituturkan oleh pembantunya sendiri, “Aku adalah pembantu Ali bin Husein. Suatu kali aku disuruh memenuhi salah satu kebutuhannya, tapi aku terlambat melakukannya. Begitu aku datang langsung dicambuk olehnya.
Aku menangis bercampur marah sebab dia tak pernah mencambuk siapapun sebelum itu. Aku berkata, “Allah… Allah… Wahai Ali bin Husein, mengapa tatkala Anda menyuruhku memenuhi keperluanmu, namun setelah kupenuhi Anda justru memukulku?”
Beliau terkejut lalu menangis mendengar kata-kataku. Lalu berkata, “Pergilah ke Masjid Nabawi, shalatlah dua rakaat kemudian berdoalah, ‘Ya Allah, ampunilah Ali bin Husein.” Bila engkau mau melakukannya, engkau akan aku merdekakan.” Aku mengikuti kata-katanya. Aku shalat dan berdoa seperti yang dimintanya. Ketika kembali ke rumahnya, diriku telah menjadi orang yang bebas merdeka.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia kekayaan yang melimpah kepada Zainul Abidin. Perdagangannya selalu untung dan tanah pertaniannya subur, dikelola para budaknya. Makin hari makin maju perdagangan dan pertaniannya semakin bertambah banyak hartanya.
Akan tetapi Zainul Abidin tidak bersenang-senang dengan kekayaannya itu. Sikapnya tidak berubah. Kekayaannya dimanfaatkan untuk membangun jalan kebaikan menuju akhirat. Begitulah, kekayaan menjadi indah di tangan hamba yang shalih. Di antara amal shalih yang beliau sukai adalah bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.
Di saat malam mulai gelap, beliau memikul sekarung tepung di punggungnya, keluar menembus kegelapan malam ketika orang-orang tidur nyenyak. Beliau berkeliling ke rumah para fakir miskin yang tak suka menadahkan tangannya.
Tidak heran jika banyak orang miskin Madinah yang hidup tanpa mengetahui dari mana jatuhnya rezeki untuk mereka itu. Setelah Ali bin Husein wafat dan mereka tak lagi menerima rezeki-rezeki itu, barulah mereka menyadari siapakah gerangan manusia dermawan itu.
Sewaktu jenazah Zainul Abidin dimandikan, terlihat ada bekas hitam di punggungnya, sehingga bertanyalah mereka yang memandikannya: “Bekas apa ini?” di antara yang hadir menjawab, “Itu adalah bekas karung-karung tepung yang selalu dipikulnya ke seratus rumah di Madinah ini.” Setelah wafatnya Zainul Abidin, terputus sudah bantuan bagi fakir miskin itu.
Pembebasan budak secara besar-besaran yang dilakukan Zainul Abidin disebarkan oleh para perantau ke timur dan barat. Tingkah lakunya seakan seperti dongeng yang direkayasa dan banyaknya melebihi hitungan orang yang membilangnya.
Zainul Abidin biasa memerdekaakn budak yang bekerja dengan baik sebagai imbalan untuk mereka. Beliau juga membebaskan budak yang terlanjur dipukul atau dianiaya sebagai tebusan. Diriwyatkan bahwa dia telah memerdekakan seribu orang budak dan tak pernah memakai tenaga seorang budak lebih dari satu tahun. Kebanyakan dari mereka dimerdekakan pada malam ‘iedul Fithri, malam yang penuh berkah. Dimintanya mereka menghadap ke kiblat dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah Ali bin Husein,” sebelum mereka pergi, beliau memberinya bekal dua kali lipat untuk berlebaran agar mereka merasakan kebahagiaan yang berlipat.
Beliau dicintai dan dihromati oleh segenap penduduk Madinah. Bila beliau berjalan menuju masjid atau kembali darinya, orang-orang selalu memperhatikannya dari tepi-tepi jalan.
Pernah Hisyam bin Abdul Malik yang sedang menjabat sebagai Amirul Mukminin datang ke Mekah untuk berhaji. Ketika beliau thawaf dan hendak mencium Hajar Aswad, para pengawal memerintahkan orang-orang supaya melapangkan jalan untuknya. Namun mereka tak mau minggir dan tak menghiraukan rombongan Amirul Mukminin, karena itu adalah rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan semua manusia adalah hamba-Nya.
Sementara itu dari kejauhan terdengar suara tahlil (laa ilaaha illallah) dan takbir, di tengah-tengah kerumunan terlihat seseorang berperawakan kecil, wajahnya bercahaya, nampak tenang, dan berwibawa. Dia mengenakan kain dan jubah, di dahinya tampak bekas sujud. Orang-orang berdiri berjajar, menyambut dengan pandangan penuh cinta dan kerinduan. Dia terus berjalan menuju Hajar Aswad kemudian menciumnya.
Seorang pengawalnya menoleh ke arah Hisyam: “Siapa orang yang dihormati sedemikian rupa oleh rakyat itu?” Hisyam berkata, “Aku tidak tahu.” Kebetulan di dekat situ hadir Farazdak, lalu dia berkata, “Barangkali Hisyam tidak kenal, tapi saya mengenalnya. Beliau adalah Ali bin Husein.” Selanjutnya dia bersyair:
Orang ini, bebatuan yang diinjaknya pun mengetahuinya
Tanah Haram dan Baitullah pun mengenalnya
Dialah putra terbaik di antara hamba Allah seluruhnya
Berjiwa takwa, suci, bersih, dan luasnya ilmunya
Dialah cucu Fathimah jika Anda belum mengenalnya
Cicit dari orang yang mana Allah menutup para Nabi dengannya
Pertanyaanmu “siapa dia” tak mengurangi ketenarannya
Orang Arab dan Ajam mengenal, meski kau tak mengenalnya
Kedua tangannya laksana hujan yang semua memanfaatkannya
Manusia membutuhkan uluran tangannya
Tak ada yang dikecewakan olehnya
Tiada pernah berkata “tidak” selain dalam tasyahudnya
Kalaulah bukan karena syahadah, niscaya hanya ada kata “ya”
Menyebarkan kebaikan di tengah manusia
Sirnalah kezhaliman, miskin, dan papa
Jika orang Quraisy melihatnya pastilah berkata:
Sampai setinggi itukah kemuliaannya?
Tertunduk mata karena malu kepadanya
Merasa kerdil melihat kehebatannya
Tak pernah lupa tersenyum tatkala berkata-kata
Di tangannya tergenggam tongkat yang harum aromanya
Dari tangan manusia cerdas hidung mencium bau wanginya
Keturunan Rasulullah dia asalnya
Alangkah mulia asalnya, akhlaknya, dan juga perangainya
Semoga Allah meridhai cicit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dan beliau pun ridha. Sungguh beliau adalah potret manusia yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala baik tatkala sendiri maupun dalam keramaian, memenuhi jiwanya dengan ketakutan terhadap siksa Allah dan harapan akan limpahan pahala-Nya.
Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009

Tokoh Islam Abu Muslim al-Khaulani, Abdullah bin Tsuwab


Tersebar berita di seluruh penjuru Jazirah Arab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit sepulang beliau dari haji Wada. Setan pun memprovokasi Aswad al-Ansi agar kembali kepada kekafiran setelah keimanannya. Dan agar dia berkata tentang Allah dengan dusta. Dia mengaku kepada kaumnya sebagai nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dia adalah manusia yang kuat jasadnya, besar ambisinya, keras jiwanya dan akrab dengan kejahatannya. Dia juga ahli dalam hal ikhwal perdukunan jahiliyah, gemar menggunakan sihir untuk mencelakakan orang. Di samping dia juga fasih lisannya, bagus argumennya, cerdas otaknya, pandai menyesatkan orang dengan kebathilannya. Dia mencari pendukung dengan cara membagi-bagikan hadiah dan pemberian. Ketika tampil di muka umum dia selalu mengenakan topeng hitam agar terkesan angker dan terasa kuat kehebatannya.
Dengan cepat dakwah Aswad al-Ansi menyebar di penjuru Yaman bagaikan api yang membakar ilalang. Dia dibantu oleh kabilah Bani Madhaj, kelompok terbesar di Yaman dari segi jumlah dan kekuasaannya. Masih pula didukung oleh kemampuan untuk merekayasa cerita dusta, kepalsuan serta memperalat para pengikutnya yang pandai untuk menguatkan siasatnya.
Dia mengaku bahwa malaikat turun dari langit untuk membawakan wahyu dan memberitahukan hal-hal ghaib kepadanya, lalu dia membuat berbagai rekayasa agar orang-orang percaya dengan pengakuannya.
Dia menaruh mata-mata di berbagai tempat untuk mendengarkan masalah-masalah yang dikeluhkan masyarakat, menguak rahasia-rahasia mereka, serta memancing cita-cita dan harapan yang tersimpan di benak mereka. Pada saat yang sama dia mengusahakan agar orang-orang minta tolong kepadanya.
Ketika orang-orang datang, dia melayani mereka dengan baik, memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengatasi segala kesulitan mereka. Dia tunjukkan seolah-olah dia mengetahui segala rahasia yang tersimpan dalam hati mereka. Dipamerkannya hal-hal ajaib dan menakjubkan sehingga mampu menyihir akal dan membingungkan pikiran mereka.
Dalam waktu singkat namanya menjadi besar, kehebatannya kian tersohor, pengikutnya makin banyak. Shan’a kini berada di bawah kendalinya, dari sini terus menyebar ke tempat lain sampai meliputi seluruh Yaman, antara Hadramaut, Tha’if, Bahrain serta Aden.
Ketika telah merasa besar kekuatannya, dan banyak pula negeri maupun kekuasaannya, dia beraksi memburu orang-orang yang menentangnya, orang-orang yang dikaruniai iman kepada Allah secara tulus dan beragama yang lurus.
Terhadap orang-orang tersebut Aswad al-Ansi berlaku bengis, bahkan tak segan-segan melakukan penyiksaan secara sadis. Di antara para penentang tersebut, terdapat seorang tokoh bernama Abdullah bin Tsuwab yang dikenal dengan julukan Abu Muslim al-Khaulani.
Abu Muslim al-Khaulani adalah seorang yang kokoh imannya, pantang kompromi dengan kebathilan dan senantiasa menyerukan kebenaran. Dia mengikhlaskan hidupnya untuk Allah Subhanahu wa Ta’alasemata. Dia menjauhi kesenangan dunia dan perhiasannya, bernadzar bahwa hidupnya akan digunakan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mendakwahkan agamanya. Dijualnya murah-murah kenikmatan sementara di dunia untuk ditukar dengan kenikmatan abadi. Tak heran bila orang-orang menyambutnya dengan baik, memandangnya sebagai orang yang suci jiwanya dan mustajab doanya di sisi Rabb-nya.
Aswad al-Ansi sudah gatal untuk menangkap Abu Muslim lalu menghukumnya sekeras mungkin. Agar orang lain yang akan menentangnya gentar dan dapat ditundukkan.
Maka, dia perintahkan prajuritnya mengumpulkan kayu bakar di lapangan Shan’a, lalu disulut dengan api. Orang-orang dipanggil untuk menyaksikan bagaimana seorang ahli fikih di Yaman dan ahli ibadahnya Abu Muslim al-Khaulani hendak “bertaubat” kepada Aswad dan mengimani kenabiannya.
Sampailah waktu yang telah direncanakan, Aswad al-Ansi memasuki lapangan yang telah dipadati manusia. Dia berjalan dengan kawalan ketat, kemudian duduk di atas kursi kebesaran di depan api yang menyala-nyala.
Sejurus kemudian, Abu Muslim al-Khaulani diseret ke tengah arena. Pendusta yang kejam itu memandang Abu Muslim dengan congkak, lau berpaling ke arah api yang berkobar dan menjilat-jilat seraya bertanya,
Aswad: “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah?”
Abu Muslim: “Benar, Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dialah sayyidul mursalin dan penutup para Nabi.”
Dahi Aswad al-Ansi menggerutu. Kedua alisnya bertaut pertanda marah.
Aswad : “Apakah Engkau bersaksi bahwa aku adalah rasul Allah?”
Abu Muslim: “Telingaku tersumbat, tak bisa mendengar kata-katamu.”
Aswad : “Kalau begitu, aku akan mencampakkanmu ke dalam api itu.”
Abu Muslim: “Bila engkau membakar aku dengan api dari kayu, engkau akan dibalas dengan api yang bahan bakarnya manusia dan batu-batu, di bawah penjagaan malaikat-malaikat yang perkasa, yang tidak menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa mematuhi perintah yang diberikan kepada mereka.
Aswad : “Aku tidak tergesa-gesa, aku beri engkau kesempatan untuk menggunakan otakmu. Apakah engkau tetap mengakui bahwa Muhammad adalah rasul Allah?”
Abu Muslim: “Benar. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Allah mengutusnya dengan membawa agama dan petunjuk yang benar. Allah menutup seluruh risalah-Nya dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad.”
Aswad  al-Ansi meninggikan nada suaranya.
Aswad : “Kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”
Abu Muslim: “Sudah aku katakan kepadamu, bahwa telingaku tersumbat sehingga tak bisa mendengar kata-katamu itu.”
Semakin naik pitamlah Aswad al-Ansi mendengar ketegasan jawaban, ketenangan serta ketegarannya. Dia hendak memerintahkan agar Abu Muslim al-Khaulani dicampakkan ke dalam api, tapi tangan kanannya berusaha mencegahnya seraya berbisik di telinganya: “Anda tahu bahwa orang ini berjiwa suci, doanya mustajab, sementara Allah tak pernah membiarkan hamba-Nya yang beriman di saat-saat kritis. Bila Anda lemparkan dia ke dalam api lalu ternyata Allah menyelamatkannya, maka semua yang kau bina dengan susah payah ini akan hancur dalam sekejap, karena orang-orang akan mengingkari kenabianmu saat itu juga. Bila engkau membakarnya dan dia mati, orang-orang akan mengaguminya, bahkan menyanjungnya sebagai syuhada. Oleh karena itu, lebih baik Anda melepaskan dia, asingkan saja dia dari negeri ini. Hindarilah dia, engkau akan menjadi lebih tenang dan bisa santai.”
Nabi palsu itu menerima saran tersebut. Dia membekaskan Abu Muslim lalu mengusirnya keluar dari Yaman.
Berangkatlah Abu Muslim al-Khaulani menuju Madinah dan sangat berharap dapat menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sudah beriman sebelum bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rindu untuk mendampingi beliau sebagai sahabat.
Tapi sayang, belum lagi memasuki Madinah, beliau mendengar kabar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu terpilih sebagai khalifah kaum muslimin. Tak terkira betapa kecewa beliau mendengarnya.
Setibanya di Madinah, beliau langsung menuju Masjid Nabawi. Beliau menambatkan ontanya di samping masjid, kemudian memasuki Masjid Nabawi setelah mengucapkan shalawat dan salam bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau mendekati salah satu tiang masjid lalu shalat di sana. Usai shalat, Umar bin Khathabradhiyallahu ‘anhu menghampirinya seraya bertanya,
Umar: “Dari manakah asal Anda?”
Abu Muslim: “Saya dari Yaman.”
Umar: “Bagaimana kabar saudara kita yang hendak dibakar hidup-hidup oleh musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu Alah menyelamatkannya itu?”
Abu Muslim: “Alhamdulillah dia dalam keadaan baik.”
Umar: “Demi Allah, bukankah Anda orangnya?”
Abu Muslim: “Benar,”
Maka Umar bin Khathab mencium antara kedua mata Abu Muslim.
Umar: “Tidakkah Anda mendengar berita tentang apa yang dilakukan Allah Subhanahu wa Ta’alakepada musuh-Nya dan musuh Anda itu?”
Abu Muslim: “Tidak. Sejak meninggalkan Yaman, saya tak lagi mendengar beritanya.”
Umar: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membunuh al-Ansi melalui tangan orang-orang beriman yang ada di sana dan mengakhiri kekuasaannya serta mengembalikan para pengikutnya ke jalan Allah.”
Abu Muslim: “Segala puji bagi Allah yang belum mematikan saya sampai saya mendengar tewasnya penjahat itu dan kembalinya penduduk Yaman ke pangkuan Islam.”
Umar: “Segala puji bagi Allah yang memberi kesempatan kepada saya untuk bertemu dengan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hendak diperlakukan seperti khalilullah (kesayangan Allah) Ibrahim ‘alaihissalam.”
Setelah itu Umar bin Khathab mengajak Abu Muslim menghadap khalifah Abu Bakar ash-Shiddiqradhiyallahu ‘anhu. Kemudian beliau berbai’at kepada khalifah muslimin itu.
Setibanya Abu Muslim, Abu Bakar mempersilakan beliau duduk di antara dirinya dan Umar radhiyallahu ‘anhu. Setelah kedua sahabat utama tersebut berbincang-bincang dan mendengarkan kisah Abu Muslim mengenai Aswad al-Ansi.
Cukup lama Abu Muslim al-Khaulani tinggal di Madinah. Dengan tekun dia datang ke Masjid Nabawi, shalat di Raudhah suci dan belajar kepada para tokoh sahabat seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Abu Dzar al-Ghifari, Ubaidah bin Shamit, Muadz bin Jabal, dan Auf bin Malik al-Asyja. Sesudah itu beliau menuju ke Syam dan menetap di sana. Beliau memilih tinggal di perbatasan agar bisa bergabung dengan kaum muslimin memerangi Romawi dan meraih pahala mujahid fi sabilillah.
Tatkala khilafah dipegang oleh Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abu Muslim sering menghadiri majelisnya. Banyak peristiwa masyhur yang menunjukkan keagungan kedua orang ini beserta derajat serta adab yang diterapkan oleh mereka.
Pernah Abu Muslim mendatangi Mu’awiyah yang sedang duduk di tengah pertemuan. Beliau dikelilingi oleh para pejabat, panglima perang, dan tokoh-tokoh kaum. Beliau melihat betapa orang-orang menghormati dan menyanjung Mu’awiyah secara berlebihan. Beliau khawatir hal itu akan merusak keimanan Amirul Mukminin, sehingga didahuluinya memberi salam: “Assalamu’alaika ya ajiral (pelayan) mukminin.” Spontan orang-orang menegurnya, “Katakanlah, ‘Amirul Mukminin (pemimpin) mukminin.”
Beliau tak mempedulikan tanggapan mereka dan bahkan mengulangi salamnya, “Assalamu’alaika ya ajiral mukminin.” Orang-orang berkata, “Amirul Mukminin, wahai Abu Muslim.” Beliau tetap pada pendiriannya berkata, “Assalamu’alaika ya ajiral mukminin.”
Tatkala orang-orang mulai mengecamnya, beliau berkata, “Anda adalah orang yang diangkat AllahSubhanahu wa Ta’ala sebagai pejabat bagi umat, seumpama orang yang disewa untuk mengurus ternak-ternaknya. Dia akan diberi upah besar, jika mengurus peternakan itu dengan baik dan rajin merawat sehingga yang kecil menjadi besar, yang kurus menjadi gemuk dan yang sakit menjadi sehat. Tetapi jika teledor, tidak mengurusnya dengan baik, sehingga ternak-ternak itu kurus kering lalu mati, susut hasil bulu dan susunya, maka dia tak akan diberi upah, bahkan akan menerima murka dan hukuman. Oleh karena itu Anda, wahai Mu’awiyah, boleh memilih mana yang baik bagi Anda dan lupa mana yang Anda kehendaki.”
Khalifah duduk mendengarkan kemudian mengangkat kepala seraya berkata, “Semoga Allah membalas Anda dengan yang lebih baik atas perhatian Anda kepada kami dan juga rakyat. Kami mengenal Anda yang selalu memberikan nasihat karena Allah dan rasul-Nya dan bagi kebaikan kaum muslimin.”
Kasus lain, ketika Abu Muslim al-Khaulani menghadiri shalat Jumat di Damaskus. Amirul Mukminin Mu’awiyah menyampaikan khutbah berisi himbauan agar masyarakat membersihkan dan mengeruk sungai Barada agar airnya bersih.
Ketika beliau tengah berkhutbah, dari tengah-tengah jamaah Abu Muslim angkat suara: “Wahai Mu’awiyah sadarkah Anda bahwa hari ini atau esok Anda akan mati dan berumah di lahat? Bila Anda membawa bekal, maka itulah yang diperintahkan bagi Anda. Bila Anda datang dengan tangan kosong maka akan Anda dapati tempat Anda berupa lahat yang datar saja. Saya mengharapkan wahai Mu’awiyah jangan sampai Anda menyangka bahwa kekuasaan adalah sekadar seperti perintah menggali sungai dan mengumpulkan harta. Khiafah menuntut adanya amalan yang benar dan tindakan adil yang menyeru manusia kepada hal-hal yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wahai Mu’awiyah, tak perlu Anda mengkhawatirkan keruhnya sungai bila sumbernya bersih. Sesungguhnya Anda adalah sumber kami, maka berusahalah agar diri Anda bersih. Wahai Mu’awiyah, bila Anda menzhalimi seseorang, maka kezhaliman itu bisa dihapus dengan keadilan Anda. Waspadalah terhadap kezhaliman, sebab ia adalah kegelapan di akhirat.”
Ketika Abu Muslim menyelesaikan kata-katanya, Mu’awiyah turun dari mimbar, menghampirinya lalu berkata, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Anda dan semoga Allah membalas kebaikan Anda.”
Contoh yang lain, ketika Mu’awiyah kembali tampil di mimbar untuk berkhutbah, beliau menunda pembagian harta untuk masyarakat dua bulan kedepan. Abu Muslim menegurnya: “Wahai Mu’awiyah harta ini bukanlah harta Anda ataupun harta ayah-ibu Anda. Mengapa Anda menahannya begitu lama dari orang-orang?”
Tanda kemarahan nampak tersirat pada wajah Mu’awiyah. Orang-orang menunggu apa yang hendak dilakukannya. Dia memberi isyarat agar orang-orang tetap di tempat masing-masing, sementara dia sendiri turun dari mimbar, berwudhu kemudian menyiram tubuhnya lalu naik lagi ke mimbar.
Kemudian beliau mengucapkan tahmid dan tasbih dan berkata, “Tadi Abu Muslim mengingatkan bahwa harta ini bukanlah hartaku atau harta ayah bundaku. Sungguh tak ada yang salah pada kata-kata itu. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Marah itu berasal dari setan dan setan berasal dari api, maka apabila salah satu dari kalian marah, hendaklah segera mandi.” Wahai saudara-saudara pergilah kalian mengambil hak kalian dengan berkah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Semoga Allah membalas kebaikan Abu Muslim al-Khaulani yang mampu menjadi teladan yang baik dalam menyampaikan kebenaran. Semoga Allah melimpahkan rahmat serta ridha-Nya kepada Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan karena dia memberi teladan kepada para penguasa tentang bagaimana menerima kebenaran dan tunduk kepada kalimat yang benar.
Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009

Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab, Seorang Alim yang Mengamalkan Ilmunya


Anak Umar bin Khathhab banyak, akan tetapi yang paling mirip dengannya adalah Abdullah. Abdullah bin Umar juga memiliki banyak anak, bahkan lebih banyak daripada anak ayahnya, dan yang paling mirip dengan Abdullah adalah Salim.
Mari kita lanjutkan kisah kehidupan Ibnu Abdullah, cucu al-Faruq, Umar bin Khaththab, yang serupa dengan kakeknya dalam perwujudan fisik, akhlak, agama, dan kewibawaannya.
Salim bertempat tinggal di kota Thaibah Madinah al-Munawarah. Ketika itu kota tersebut dalam kondisi makmur dan kaya raya. Rezeki dan kenikmatan melimpah ruah dan belum pernah disaksikan yang seperti itu sebelumnya. Rezeki datang dari segala penjuru, para khalifah Bani Umayah membanjirinya dengan kekayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Namun hal itu tidaklah membuat Salim terpikat dengan harta seperti yang lain, dan tidak pula menggandrungi keindahan-keindahan yang sementara dan fana. Sebaliknya dia senantiasa berzuhud atas apa yang ada di tangan manusia demi mengharapkan apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berpaling dari hal-hal yang fana untuk menggapai kenikmatan yang abadi.
Tak terhitung seringnya khalifah Bani Umayah ingin memberikan hadiah berbagai kenikmatan bagi beliau dan bagi yang lainnya, namun beliau tetap berpegang pada kezuhudannya, tidak tamak akan apa yang ada di tangan orang lain dan memandang rendah dunia beserta isinya.
Tahun itu, khalifah Sulaiman berkunjung ke Mekah untuk berhaji. Pada saat melakukan thawaf, beliau melihat Salim bin Abdullah bersimpuh di depan Ka’bah dengan khusyu. Lidahnya bergerak kmembaca Alquran dengan tartil dan khusyuk. Sementara air matanya meleleh di kedua pipinya. Seakan ada lautan air mata di balik kedua matanya.
Usai tawaf dan shalat dua rakaat, khalifah berusaha menghampiri Salim. Orang-orang memberinya tempat, sehingga dia bisa duduk bersimpuh hingga menyentuh kaki Salim. Namun Salim tidak menghiraukannya karena asyik dengan bacaan dan dzikirnya.
Diam-diam khalifah memperhatikan Salim sambil menunggu beliau berhenti sejenak dari bacaan dan tangisnya. Ketika ada peluang, khalifah segera menyapa,
Khalifah: “Assalamu’alaika wa rahmatullah wahai Abu Umar.”
Salim: “Wa’alaikassalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Khalifah: “Katakanlah apa yang menjadi kebutuhan Anda wahai Abu Umar, saya akan memenuhinya.”
Salim tidak mengatakan apa-apa sehingga khalifah menyangka dia tidak mendengar kata-katanya. Sambil merapat, khalifah mengulangi permintaannya: “Saya ingin Anda mengatakan kebutuhan Anda agar saya bisa memenuhinya.”
Salim: “Demi Allah, aku malu mengatakannya. Bagaimana mungkin, aku sedang berada di rumah-Nya, tetapi meminta kepada selain Dia?”
Khalifah terdiam malu, tapi dia tak beranjak dari tempat duduknya. Ketika shalat usai, Salim bangkit hendak pulang. Orang-orang memburunya untuk bertanya tentang hadis ini dan itu, dan ada yang meminta fatwa tentang urusan agama, dan ada pula yang meminta untuk didoakan. Khalifah Sulaiman termasuk di antara kerumunan itu. Begitu mengetahui hal tersebut, orang-orang menepi untuk memberinya jalan. Khalifah akhirnya bisa mendekati Salim, lalu berkata:
Khalifah: “Sekarang kita sudah berada di luar masjid, maka katakanlah kebutuhan Anda agar saya dapat membantu Anda.”
Salim: “Dari kebutuhan dunia atau akhirat?”
Khalifah: “Tentunya dari kebutuhan dunia.”
Salim: “Saya tidak meminta kebutuhan dunia kepada yang memilikinya (Allah), bagaimana saya meminta kepada yang bukan pemiliknya?”
Khalifah malu mendengar kata-kata Salim. Dia berlalu sambil bergumam, “Alangkah mulianya kalian dengan zuhud dan takwa wahai keturunan al-Khaththab, alangkah kayanya kalian dengan AllahSubhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi kalian sekeluarga.”
Tahun sebelumnya, al-Walid bin Abdul Malik juga menunaikan ibadah haji. Ketika orang-orang telah turun dari Arafah, khalifah menjumpai Salim bin Abdullah di Muzdalifah. Ketika itu Ibnu Abdillah mengenakan pakaian ihram.
Al-Walid mengucapkan salam dan doa, khalifah memandangi tubuh Salim yang terbuka, tampak begitu sehat dan kekar bagaikan sebuah bangunan yang kokoh.
Al-Walid: “Bentuk tubuh Anda bagus sekali, wahai Abu Umar, apakah makanan Anda sehari-hari?”
Salim: “Roti dan Zaitun dan terkadang daging jika saya mendapatkannya.”
Al-Walid: “Hanya roti dan zaitun?”
Salim: “Benar.”
Al-Walid: “Apakah kamu berselera memakan itu?”
Salim: “Jika kebetulan aku tidak berselera, maka aku tinggalkan hingga lapar hingga saya berselera terhadapnya.”
Salim tak hanya mirip dengan kakeknya, al-Faruq Umar bin Khaththab, dalam bentuk fisik dan kezuhudan terhadap dunia yang fana, namun juga dalam keberaniannya menyampaikan kalimat yang benar meski berat resikonya.
Beliau pernah menemui Hajjaj bin Yusuf untuk membicarakan tentang kebutuhan kaum muslimin. Hajjaj menyambutnya dengan baik, dipersilakan duduk di sisinya dan dihormati secara berlebihan. Beberapa saat kemudian beberapa orang dibawa ke hadapan Hajjaj, pakaiannya compang-camping, wajahnya pucat dan semua dalam keadaan di belenggu. Hajjaj menoleh kepada Salim bin Abdullah dan menjelaskan, “Mereka adalah pembuat onar di muka bumi, menghalalkan darah yang telah Allah haramkan.”
Dia mengambil pedang dan menyerahkannya kepada Salim sekaligus memberi isyarat kepada orang pertama, dia berkata kepada Salim: “Bangkitlah, dan tebaslah lehernya!”
Pedang itu diterima oleh Salim, beliau menghampiri orang yang dimaksud. Seluruh mata menghadap kepadanya untuk melihat apa yang hendak beliau lakukan. Salim berdiri di depan orang tersebut lalu bertanya,
Salim: “Apakah Anda muslim?”
Tahanan: “Benar saya muslim. Tapi apa perlunya Anda bertanya demikian? Lakukan saja apa yang diperintahkan kepada Anda!”
Salim: “Apakah Anda shalat subuh?”
Tahanan: “Sudah saya katakan bahwa saya muslim. Mengapa Anda bertanya apakah saya shalat subuh? Adakah seorang muslim yang tidak mengerjakan shalat subuh?”
Salim: “Saya bertanya, apakah Anda shalat subuh hari ini?”
Tahanan: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepada Anda. Saya katakan, ‘Ya.’ Silakan Anda melaksanakan perintah zalim itu, jika tidak tentulah dia akan marah kepada Anda.”
Salim bin Abdullah kembali ke hadapan Hajjaj. Sambil melemparkan pedang yang digenggamnya dia berkata, “Orang ini mengaku sebagai seorang muslim dan berkata bahwa hari ini sudah shalat subuh. Saya mendenganr Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa shalat subuh, dia berada dalam naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” maka saya tidak akan membunuh seseorang yang berada dalam perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Hajjaj marah mendengarnya dan berkata, “Kami akan membunuhnya bukan karena meninggalkan shalat, melainkan karena dia membantu pembunuhan atas khalifah Utsman bin Affan.” Salim berkata, “Padahal ada orang yang lebih berhak untuk menuntut darah Utsman bin Affan daripada engkau.” Hajjaj pun diam tak mampu berbicara.
Di antara yang menyaksikan kejadian itu pergi ke Madinah dan menceritakan semua yang dilihatnya tentang Salim kepada ayahnya, Abdullah bin Umar. Ibnu Umar tak sabar ingin mendengar cerita orang tersebut sehingga bertanya mendesak, “Lalu apa yang dilakukan oleh Salim?” Orang itu menjelaskan, “Dia melakukan ini dan itu.”
Alangkah gembiranya Abdullah bin Umar. Beliau berkata, “Bagus! Bagus! Cerdas…cerdas…!”
Ketika khilafah beralih ke tangan Umar bin Abdul Aziz, khalifah baru itu segera mengirim surat kepada Salim bin Abdillah:
“Amma ba’du, Saya telah menerima ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengurusi permasalahan umat tanpa diminta atau dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan saya. Maka dengan ini saya memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengujiku agar berkanan menolongku. Jika surat ini sampai ke tangan Anda, saya minta agar Anda mengirimkan kepada saya buku-buku tentang Umar bin Khaththab, perilaku dan keputusan-keputusanya sebagai khalifah. Saya ingin sekali mengikuti jejak beliau dan berjalan mengikuti jalan beliau, semoga Allah memelihara saya untuk ini. Wassalam.”
Setelah membaca surat tersebut, Salim bin Abdillah mengirim surat balasan:
”Telah sampai kepadaku surat Anda yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menguji Anda dengan kewajiban mengurus kaum muslimin tanpa Anda minta dan tanpa dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan Anda. Dan Anda menginginkan jalan yang telah dilalui Umar bin Khaththab. Yang perlu Anda perhatikan dan ingat selalu adalah bahwa Anda tidak hidup pada zaman Umar bin Khaththab dan tidak didampingi orang-orang seperti mendampingi Umar bin Khaththab. Tetapi ketahuilah, bila Anda mempunyai niat untuk berbuat baik dan benar-benar menginginkannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantu Anda bersama para pejabat yang mendampingi Anda. Hal itu akan datang di luar perhitungan Anda, sebab pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya didasarkan pada niatnya. Bila berkurang niatnya pada kebaikan, maka akan berkurang pula pertolongan-Nya. Apabila nafsu Anda mengajak kepada sesuatu yang tak diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala maka ingatlah apa yang dialami oleh para penguasa sebelum Anda.
Maka perhatikanlah betapa rusaknya mata mereka karena hanya digunakan untuk melihat kenikmatan, perut mereka pecah karena terlalu kenyang dengan syahwat. Bayangkanlah seandainya jenazah mereka diletakkan di samping rumah dan tidak dimasukkan ke liang lahat. Tentulah kita akan sengsara karena baunya dan terkena penyakit karena busuknya. Wassalamu’alaika warahmatullahi wabarakatuh.”
Kehidupan Salim bin Abdillah bin Umar bin Khaththab penuh dengan taqwa, akrab dengan hidayah, menjauhi kesenangan dunai dan godaannya, memperlakukannya sesuai dengan jalan yang diridhai Allah. Beliau makan makanan keras dan mengenakan pakaian dari bahan yang kasar, bergabung dengan pasukan muslimin untuk menghadapi Romawi, dan selalu berusaha membantu menyelesaikan masalah kaum muslimin.
Ketika ajal menjemputnya pada tahun 106 H, duka cita menyelimuti kota Madinah. Semua orang datang untuk mengantar jenazah dan menyaksikan pemakamannya. Termasuk Hisyam bin Abdul Malik yang ketika itu berada di Madinah turut menghadiri pemakaman beliau.
Takjub dengan banyaknya lautan manusia yang mengantar jenazah Salim bin Abdullah, timbul rasa iri di hatinya sehingga di bergumam, “Nanti akan terbukti betapa banyak manusia yang akan menghadiri pemakaman tatkala khalifah muslimin wafat di negeri mereka.” Kemudian dia berkata, “Kirimkanlah empat ribu pemuda ke perbatasan.” Maka tahun tersebut dikenal dengan tahun empat ribu.
Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009