Jumat, 11 Januari 2013

Cara Membuang Mushaf Alquran Yang Tidak Terpakai


Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du
Top of Form

Ada bebarapa cara yang dijelaskan ulama,

Pertama , Mushaf bekas itu dikubur dalam tanah.

Berikut adalah keterangan madzhab hanafi dan hambali.

Al-Hasfaki, ulama madzhab hanafi mengatakan,

المصحف إذا صار بحال لا يقرأ فيه: يدفن; كالمسلم

" Mushaf yang tidak lagi bisa terbaca, dikubur, sebagaimana seorang muslim . "( ad-Dur Al-Mukhtar , 1:191).

Ulama lain yang memberikan catatan kaki untuk ad-Dur Al-Mukhtar mengatakan,

أي يجعل في خرقة طاهرة, ويدفن في محل غير ممتهن, لا يوطأ

Maksudnya, lembaran mushaf itu diletakkan di kain yang suci, kemudian dikubur di tempat yang tidak dihinakan (seperti tempat sampah), dan tidak bisa diinjak.

Al-Bahuti mengatakan,

"Jika ada mushaf Alquran yang sudah usang maka dia dikubur, berdasarkan ketegasan dari Imam Ahmad. Imam Ahmad menyebutkan bahwa Abul Jauza mushafnya telah usang. Kemudian ia menggali di tanah masjidnya lalu menanamnya dalam tanah. "( Kasyaf al-Qana ' , 1:137)

Hal ini pula yang difatwakan Syaikhul Islam,

وأما المصحف العتيق والذي تخرق وصار بحيث لا ينتفع به بالقراءة فيه, فإنه يدفن في مكان يصان فيه, كما أن كرامة بدن المؤمن دفنه في موضع يصان فيه

Mushaf yang sudah tua atau rusak sehingga tidak bisa dibaca, dia kubur di tempat yang terlindungi. Sebagaimana kehormatan jasad seorang mukmin, dia harus dikubur di tempat yang terlindungi (bukan tempat kotor dan tidak bisa diinjak) ( Majmu 'Fatawa , 12:599).

Kedua , mushaf yang rusak itu dibakar.

Ini merupakan pendapat Malikiyah dan Syafi'iyah. Tindakan ini meniru yang dilakukan oleh Khalifah Utsman radhiyallahu 'anhu , setelah ia menerbitkan mushaf induk 'Al-Imam', beliau memerintahkan untuk membakar semua catatan mushaf yang dimiliki semua sahabat. Semua ini dilakukan Utsman untuk menghindari perpecahan di kalangan umat islam yang tidak memahami perbedaan cara bacaan Alquran.

Salah satu saksi sejarah, Mus'ab bin Sa'd mengatakan,

أدركت الناس متوافرين حين حرق عثمان المصاحف, فأعجبهم ذلك, لم ينكر ذلك منهم أحد

Ketika Utsman membakar mushaf, saya menemukan banyak sahabat dan sikap Utsman membuat mereka heran. Namun tidak ada seorangpun yang mengingkarinya (HR. Abu Bakr bin Abi Daud, dalam al-Mashahif , hlm. 41).

Diantara tujuan membakar Alquran yang sudah usang adalah untuk mengamankan firman Allah dan nama Dzat Yang Maha Agung dari sikap yang tidak selayaknya dilakukan, seperti diinjak, dibuang di tempat sampah atau yang lainnya.

وفى أمر عثمان بتحريق الصحف والمصاحف حين جمع القرآن جواز تحريق الكتب التي فيها أسماء الله تعالى, وأن ذلك إكرام لها, وصيانة من الوطء بالأقدام, وطرحها في ضياع من الأرض

Perintah Utsman untuk membakar kertas mushaf ketika ia mengumpulkan Alquran, menunjukkan bolehnya membakar kitab yang disitu tertulis nama-nama Allah ta'ala. Dan itu sebagai bentuk memuliakan nama Allah dan menjaganya agar tidak terinjak kaki atau terbuang sia-sia di tanah ( Syarh Shahih Bukhari , 10:226)

Yang tidak bisa dilakukan

As-Suyuti menjelaskan beberapa hal yang tidak bisa dilakukan,

إذا احتيج إلى تعطيل بعض أوراق المصحف لبلى ونحوه, فلا يجوز وضعها في شق أو غيره; لأنه قد يسقط ويوطأ, ولا يجوز تمزيقها لما فيه من تقطيع الحروف وتفرقة الكلم, وفي ذلك إزراء بالمكتوب ... وإن أحرقها بالنار فلا بأس, أحرق عثمان مصاحف كان فيها آيات وقراءات منسوخة ولم ينكر عليه

Jika dibutuhkan untuk menghancurkan sebagian kertas mushaf karena sudah usang atau sebab lainnya maka tidak bisa diselipkan di tempat tertentu, karena bisa jadi terjatuh dan diinjak. Tidak bisa juga disobek-sobek, karena akan memotong-motong hurufnya tanpa aturan dan merusak tatanan kalimat, dan semua itu adalah sikap tidak menghormati tulisan Alquran ... jika dibakar denagn api, hukumnya boleh. Utsman membakar mushaf yang ada tulisan ayat Alquran dan ayat yang telah dinasakh (dihapus), dan tidak ada yang mengingkari beliau ( Al-Itqan fi Ulum Alquran , 2:459).

Baik yang menyarankan dikubur atau dibakar, keduanya memiliki alasan yang kuat. Yang lebih tepat adalah memilih cara yang paling efektif, yang paling cepat menghilangkan hurufnya dan paling aman dari sikap tidak hormat.

Ibnu Utsaimin mengatakan,

التمزيق لابد أن يأتي على جميع الكلمات والحروف, وهذه صعبة إلا أن توجد آلة تمزق تمزيقا دقيقا جدا بحيث لا تبقى صورة الحرف ..

Menghancurkan mushaf harus sampai lembut, sehingga hancur semua kata dan huruf. Dan ini sulit, kecuali jika ada alat untuk menghancurkan yang lembut, sehingga tidak ada lagi tulisan hurup yang tersisa ... ( Fatawa Nur ala ad-darbi , 2:384).

Allahu a'lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com )
Bottom of Form

Gara-gara Tukang Adu Domba


Kisah Muslim – Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki melihat seorang budak yang dijual. Tidak ada cacat apa pun pada budak tersebut. Hanya saja dia tukang adu domba. Tetapi lelaki tersebut menganggap remeh cacat ini. Lelaki tersebut tetap membelinya.
Setelah beberapa hari si budak tinggal bersama lelaki tersebut, si budak berkata kepada istri majikannya, “Sungguh, majikanku hendak menikah dengan perempuan selain engkau.” Dia menambahkan, “Sebenarnya dia tidak mencintaimu. Jika engkau ingin dia menyayangimu dan mengurungkan apa yang telah direncanakannya, maka apabila dia tidur, ambillah pisau cukur lalu cukurlah beberapa bulu di bawah janggutnya dan biarkan bulu-bulu itu bersamamu.”
Isteri majikan itu berkata dalam hati, “Baiklah.” Dia pun hendak melakukan hal tersebut pada saat suaminya tidur.
Tatkala si suami datang, si budak berkata kepadanya, “Sungguh, majikan perempuanku, istri Anda mempunyai teman dan kekasih selain Anda. Dia ingin lepas dari Anda. Sungguh, dia telah berencana hendak menyembelih Anda di malam hari. Jika Anda tidak percaya pada saya, cobalah Anda pura-pura tidur di malam hari. Lihatlah bagaimana istri Anda menghampiri Anda sementara di tangannya ada sesuatu untuk menyembelih Anda.” Ternyata majikan tersebut mempercayai si budak.
Ketika malam menjelang, di saat si suami berpura-pura tidur si istri datang membawa pisau cukur untuk mencukur bulu di bawah janggut suaminya. Si suami berkata dalam hati, “Demi Allah, sungguh benar kata si budak.” Tatkala si istri telah meletakkan pisau cukur dan hendak menjatuhkannya ke tenggorokan suami, kontan si suami bangkit dan merampas pisau cukur dari istrinya,  lalu dia menyembelih istrinya dengan pisau tersebut. Kemudian keluarga istri datang dan mendapati perempuan tersebut dalam keadaan terbunuh, lalu mereka pun membunuh si suami tersebut. Akhirnya terjadi pertikaian antara dua kelompok gara-gara budak tukang adu domba tersebut.
Tersebut bahwa seorang laki-laki menghadap Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu. Lalu lelaki tersebut mengadu domba Umar radhiyallahu anhu dengan salah seorang sahabat Umar radhiyallahu anhu. Dia menyampaikan ucapan jelek dari temannya tersebut kepada Umar radhiyallahu anhu. Dia mengobarkan amarah Umar radhiyallahu anhu. Ketika lelaki tersebut telah selesai menyampaikan fitnahnya, Umar radhiyallahu anhu menundukkan kepalanya seolah-olah beliau memikirkan ucapan fitnah tersebut, “Hai saudara! Jika kamu mau, kami akan pikirkan urusanmu ini dan kami selidiki ceritamu. Jika kamu bohong, maka kamu termasuk orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Jika kamu berkata jujur, maka kamu termasuk orang-orang yang disebutkan dalam ayat berikut:
“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah.” (QS. Al-Qalam: 10-11)
Jika kamu mau, maka saya akan mengampunimu dan kamu jangan kembali lagi ke sini setelah hari ini. Kamu bukan termasuk di antara teman-teman duduk kaum mukmin.”
Dia telah berbuat sesuatu yang hina pada dirinya sendiri. Lelaki tersebut berkata, “Saya meminta maaf kepadamu, wahai Amirul Mukminin. Saya berjanji kepadamu tidak akan menyebarkan fitnah lagi. Selanjutnya dia meninggalkan tempat Umar dalam keadaan hina dan malu.”
Suatu ketika Shahib bin Ubbar salah seorang pejabat pemerintah Andalusia sedang di tempat duduknya. Tiba-tiba pelayannya masuk membawa secarik kertas dari seseorang yang berdiri di depan pintu, lalu Shahib bin Ubbad membacanya. Ternyata di dalamnya terdapat ungkapan yang panjang. Penulis surat meminta agar si pejabat tersebut mengambil harta dari anak yatim yang lemah. Dia ditinggal mati ayahnya sebatang kara di dunia ini. Ayahnya meninggalkan banyak harta dan kebun untuknya. Jika pejabat tersebut berkenan, maka dia dapat meletakkan kekuasannya pada harta tersebut dan tidak ada seorang pun yang melawannya. Lantas si pejabat menandatangani lembaran kertas tersebut dengan menuliskan kalimat berikut, “Sesungguhnya mengadu domba merupakan perbuatan yang buruk. Meskipun berupa nasihat yang baik. Orang yang telah meninggal semoga dirahmati AllahSubhanahu wa Ta’ala, anak yatim semoga dicukup oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, harta benda semoga dikembangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedang tukang adu domba semoga dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Gara-gara Tukang Adu Domba


Kisah Muslim – Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki melihat seorang budak yang dijual. Tidak ada cacat apa pun pada budak tersebut. Hanya saja dia tukang adu domba. Tetapi lelaki tersebut menganggap remeh cacat ini. Lelaki tersebut tetap membelinya.
Setelah beberapa hari si budak tinggal bersama lelaki tersebut, si budak berkata kepada istri majikannya, “Sungguh, majikanku hendak menikah dengan perempuan selain engkau.” Dia menambahkan, “Sebenarnya dia tidak mencintaimu. Jika engkau ingin dia menyayangimu dan mengurungkan apa yang telah direncanakannya, maka apabila dia tidur, ambillah pisau cukur lalu cukurlah beberapa bulu di bawah janggutnya dan biarkan bulu-bulu itu bersamamu.”
Isteri majikan itu berkata dalam hati, “Baiklah.” Dia pun hendak melakukan hal tersebut pada saat suaminya tidur.
Tatkala si suami datang, si budak berkata kepadanya, “Sungguh, majikan perempuanku, istri Anda mempunyai teman dan kekasih selain Anda. Dia ingin lepas dari Anda. Sungguh, dia telah berencana hendak menyembelih Anda di malam hari. Jika Anda tidak percaya pada saya, cobalah Anda pura-pura tidur di malam hari. Lihatlah bagaimana istri Anda menghampiri Anda sementara di tangannya ada sesuatu untuk menyembelih Anda.” Ternyata majikan tersebut mempercayai si budak.
Ketika malam menjelang, di saat si suami berpura-pura tidur si istri datang membawa pisau cukur untuk mencukur bulu di bawah janggut suaminya. Si suami berkata dalam hati, “Demi Allah, sungguh benar kata si budak.” Tatkala si istri telah meletakkan pisau cukur dan hendak menjatuhkannya ke tenggorokan suami, kontan si suami bangkit dan merampas pisau cukur dari istrinya,  lalu dia menyembelih istrinya dengan pisau tersebut. Kemudian keluarga istri datang dan mendapati perempuan tersebut dalam keadaan terbunuh, lalu mereka pun membunuh si suami tersebut. Akhirnya terjadi pertikaian antara dua kelompok gara-gara budak tukang adu domba tersebut.
Tersebut bahwa seorang laki-laki menghadap Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu. Lalu lelaki tersebut mengadu domba Umar radhiyallahu anhu dengan salah seorang sahabat Umar radhiyallahu anhu. Dia menyampaikan ucapan jelek dari temannya tersebut kepada Umar radhiyallahu anhu. Dia mengobarkan amarah Umar radhiyallahu anhu. Ketika lelaki tersebut telah selesai menyampaikan fitnahnya, Umar radhiyallahu anhu menundukkan kepalanya seolah-olah beliau memikirkan ucapan fitnah tersebut, “Hai saudara! Jika kamu mau, kami akan pikirkan urusanmu ini dan kami selidiki ceritamu. Jika kamu bohong, maka kamu termasuk orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Jika kamu berkata jujur, maka kamu termasuk orang-orang yang disebutkan dalam ayat berikut:
“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah.” (QS. Al-Qalam: 10-11)
Jika kamu mau, maka saya akan mengampunimu dan kamu jangan kembali lagi ke sini setelah hari ini. Kamu bukan termasuk di antara teman-teman duduk kaum mukmin.”
Dia telah berbuat sesuatu yang hina pada dirinya sendiri. Lelaki tersebut berkata, “Saya meminta maaf kepadamu, wahai Amirul Mukminin. Saya berjanji kepadamu tidak akan menyebarkan fitnah lagi. Selanjutnya dia meninggalkan tempat Umar dalam keadaan hina dan malu.”
Suatu ketika Shahib bin Ubbar salah seorang pejabat pemerintah Andalusia sedang di tempat duduknya. Tiba-tiba pelayannya masuk membawa secarik kertas dari seseorang yang berdiri di depan pintu, lalu Shahib bin Ubbad membacanya. Ternyata di dalamnya terdapat ungkapan yang panjang. Penulis surat meminta agar si pejabat tersebut mengambil harta dari anak yatim yang lemah. Dia ditinggal mati ayahnya sebatang kara di dunia ini. Ayahnya meninggalkan banyak harta dan kebun untuknya. Jika pejabat tersebut berkenan, maka dia dapat meletakkan kekuasannya pada harta tersebut dan tidak ada seorang pun yang melawannya. Lantas si pejabat menandatangani lembaran kertas tersebut dengan menuliskan kalimat berikut, “Sesungguhnya mengadu domba merupakan perbuatan yang buruk. Meskipun berupa nasihat yang baik. Orang yang telah meninggal semoga dirahmati AllahSubhanahu wa Ta’ala, anak yatim semoga dicukup oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, harta benda semoga dikembangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedang tukang adu domba semoga dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Bersama Malaikat Jibril dan Mikail


Kisah Mulim – Samurah bin Jundub radiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai melaksanakan shalat subuh, beliau menghadap ke arah kami seraya bersabda, “Siapa di antara kalian yang bermimpi tadi malam?”

Jundub radiyallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya, “Apabila ada seseorang di antara kita yang bermimpi, maka dia menceritakan mimpinya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sesuai kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.’
Kemudian pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada kita, ‘Apakah ada di antara kalian yang bermimpi?’ ‘Tidak ada,’ jawab kami. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tadi malam aku bermimpi didatangi dua lelaki. Keduanya memegang tanganku dan membawaku ke bumi yang disucikan. Tiba-tiba aku menyaksikan ada seseorang yang duduk dan seorang lagi berdiri. Di tangannya terdapat gancu dari besi. Dia memasukkannya ke tulang rahang bawah temannya hingga tembus sampai ke tengkuk. Dan yang satunya juga melakukan hal yang sama terhadap temannya. Lalu tulang rahangnya merapat kembali seperti sedia kala. Kemudian dia melakukan lagi hal yang sama. Aku pun bertanya, ‘Apa ini?’ Keduanya berkata, ‘Mari kita pergi!’
‘Kami pun berjalan lagi hingga kami menjumpai seseorang yang berbaring pada tengkuknya dan seseorang berdiri. Di atas kepalanya terdapat batu besar atau batu yang memenuhi telapak tangan, lalu dia meremukkan kepala orang yang berbaring dengan batu tersebut. Ketika batu tersebut dipukulkan ke kepala, maka batu tersebut menggelinding, lalu dia bergegas mengambil batu tersebut. Belum sampai dia kembali ke tempat semula, kepala yang remuk tadi pulih kembali seperti sedia kala. Dia pun mengulangi lagi memukulkan batu tersebut. Aku pun bertanya, ‘Apa ini?’ Keduanya berkata, ‘Mari kita pergi!’
‘Kami berjalan menuju suatu kubangan semisal dapur api. Bagian atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya luas. Di bagian bawahnya dinyalakan api. Ternyata di dalamnya terdapat laki-laki dan perempuan telanjang. Nyala api menghantam mereka dari bawah. Ketika api telah dekat dengan mereka, maka mereka naik sehingga hampir herhasil keluar. Ketika api padam, maka mereka kembali lagi. Aku bertanya, ‘Apa ini?’ Keduanya berkata, ‘Mari kita pergi!’
‘Kami melanjutkan perjalanan hingga kami menjumpai sungai darah yang di dalamnya terdapat seseorang yang berenang di tepi sungai tersebut ada seseorang yang di hadapannya terdapat bebatuan. Dia menghadap ke arah orang yang ada di dalam sungai. Apabila orang yang ada di dalam sungai hendak keluar dari sungai, maka dia melempari orang tersebut dengan batu tepat pada mulutnya. Lalu dia kembali ke tempat semula. Ketika dia hendak keluar lagi, maka dia dilempari batu tepat pada mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Aku bertanya, ‘Apa ini?’ Keduanya berkata, ‘Mari kita pergi!’
‘Kami pun pergi hingga kami sampai ke suatu taman hijau yang di dalamnya terdapat pohon besar. Di bagian dasar pohon terdapat seorang kakek dan anak-anak. Sedang di dekat pohon tersebut terdapat laki-laki yang menyalakan api di depannya. Lantas keduanya membawaku naik ke atas pohon. Kemudian keduanya membawaku masuk ke dalam rumah. Saya belum pernah melihat rumah yang lebih bagus dari rumah tersebut. Di dalamnya terdapat kakek-kakek dan para pemuda. Kemudian keduanya membawaku naik lagi dan memasukkanku ke dalam rumah yang lebih bagus dan lebih utama.’
‘Saya berkata, ‘Kalian berdua telah mengajakku berkeliling malam ini. Tolong sampaikan kepadaku mengenai hal-hal yang telah kulihat.’ Keduanya berkata, ‘Baiklah. Orang yang kamu lihat tertembus tulang rahangnya ialah pembohong. Dia menceritakan suatu kebohongan. Lalu kebohongan tersebut dibawa ke tempat lain sehingga sampai ke penjuru daerah. Dia akan mengalami hal tersebut sampai hari kiamat.’
‘Orang yang engkau lihat diremukkan kepalanya ialah seseorang yang diberi pengetahuan oleh AllahSubhanahu wa Ta’ala tentang Alquran, tetapi dia tidur tanpa membacanya di malam hari dan dia tidak mengamalkannya di siang hari. Dia akan diperlakukan seperti itu hingga hari kiamat.’
‘Orang yang engkau lihat di dalam kubangan, mereka adalah para pezina. Sedangkan orang yang engkau lihat di dalam sungai adalah pemakan riba. Seorang kakek yang ada di dasar pohon ialah Nabi Ibrahim dan anak-anak di sekelilingnya ialah anak-anak manusia. Sedangkan yang menyalakan api ialah Malaikat Malik, penjaga neraka Jahannam. Rumah pertama ialah rumah kaum mukmin secara umum. Sedangkan rumah ini ialah untuk orang-orang yang mati syahid. Saya adalah Jibril sedangkan ini Mikail. Angkat kepalamu!’ Aku pun mendongakkan kepalaku, tiba-tiba ada istana yang mirip gumpalan awan. Keduanya berkata, ‘Itulah tempatmu.’ ‘Tinggalkanlah aku di sini biar aku masuk ke tempatku,’ kataku. Dia berkata, ‘Umurmu masih tersisa. Engkau belum menyempurnakannya. Kalau engkau telah menyempurnakannya, pastilah engkau dapat mendatangi tempatmu.”
(Bersumber pada Hadits yang dirwiyatkan oleh Bukhari)
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

TETAP TERSENYUM SAAT KECEWA


Top of Form
Bismillaahirrahmaanirrahiim,,,,

Kenapa kita harus bersedih hati berkepanjangan?
Ketika sesuatu yang sudah ada di tangan terlepas dari genggaman kita? Bukankah ALLAH sedang menguji kadar keikhlasan kita?

Kenapa kita harus larut dalam kekecewaan yang teramat dalam?
Ketika sebuah keinginan tak kunjung menjadi kenyataan?
Bukankah ALLAH sedang menguji sebatas mana kesabaran kita?

Kenapa kita harus terus menerus menangis dan meratap?
Ketika sebuah kebahagiaan yang kita miliki hancur begitu saja karena pengkhianatan?
Bukankah ALLAH sedang ingin menguji seberapa besar kadar ketawakalan kita kepada_NYA ?

Dan ketika ujian serta cobaan datang silih berganti.
Kenapa kita harus berputus asa?
Bukankah ALLAH tidak akan menguji hamba-hamba_NYA dengan suatu ujian di luar batas kemampuannya?

( La Yukallifullahu Nafsan Illa Wus'aha )

"ALLAH tidak akan membebani seseorang (hamba_NYA) melainkan sesuai dengan kemampuannya." [Al-Baqarah : 286]

Ketika kita bisa menerima apapun yang menjadi ketetapan_NYA dengan hati penuh kelapangan dan keikhlasan,
Maka yakinlah hidup kita akan jauh lebih indah.
Hatipun akan semakin dekat dengan ketenteraman.

Burung


Top of Form
Kau datangi seekor burung yg elok rupawan
Dengan segenggam makanan di tangan kanan
Sangkar emas di tangan kiri kau siapkan
Jangan heran ketika ia terbang ketakutan
Kebebasan lbh ia sukai dari kemewahan
Begitu pula sikap para penghamba ar-Rahman
Ditawarkan kepadanya kemewahan dan jabatan
Tapi ibadah dan keyakinan menjadi korban
Tentu, menjauh darinya menjadi pilihan
Baginya, hamba ar-Rahman adalah setinggi-tinggi kedudukan

via Ustadz Abu Umar Abdillah

Status Nasehat
http://www.facebook.com/PageStatusNasehat


RENUNGAN

Memiliki lima rumah megah bak istana pasti memuaskan.

Memiliki kendaraan mewah dengan berbagai varian pasti membanggakan.

Memiliki berbagai asesoris bagus nan mahal tentu menyenangkan.

Memiliki berbagai hidangan enak dan beraneka ragam pasti mengenakkan.

Namun coba pikirkan dng baik....

Sejatinya berapah yg benar-benar anda gunakan?

dan berapakah sebenarnya yg anda butuhkan?

Anda hanya membutuhkan satu ruang dr rumah anda untuk tidur.
Anda hanya membutuhkan,
satu kendaraan untuk anda kendarai.
Anda juga hanya membutuhkan sepiring nasi,dengan beberapa potong lauk.

Dan anda juga hanya membutuhkan satu pasang pakaian.
Coba anda pikirkan:

Andai anda telah mengenakan 5 baju sekaligus.
Andai anda telah makan 5 piring nasi sekaligus.
Andai anda semalam tidur di 5 kamar sekaligus alias semalam pindah tempat tidur 5 x.

Kira-kira nyamankah anda hidup dng cara ini?
Dan kira2 apa tanggapan orang ttg cara anda berpakaian, makan dan tidur ini?

Simaklah sabda Nabi shallallahu 'alaiahi wa sallam berikut :

فِرَاشٌ لِلرَّجُلِ وَفِرَاشٌ لِامْرَأَتِهِ وَالثَّالِثُ لِلضَّيْفِ وَالرَّابِعُ لِلشَّيْطَانِ ).

Satu kasur untuk suami, satu kasur lagi untuk istrinya, satu lagi untuk tamunya, dan kasur keempat untuk setan.

Riwayat Muslim.

~Ustadz DR.Muhammad Arifin Badri MA, Hafidzahullah
~ 
http://www.facebook.com/PageStatusNasehat